MER-C Akan Gugat KPU Ke Mahkamah Internasional

Butuh Mobil Baru, Hubungi Dealer Resmi Suzuki Mobil Polman – Sulbar

Jakarta. PolewaliMandar.Net – Pasca pelaksanaan Pemilu Serentak 2019, angka kematian dan kesakitan petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) yang terus meningkat dari hari ke hari. Korban meninggal dunia berjatuhan hingga menembus angka 600 jiwa lebih.

Lembaga kemanusiaan MER-C sejak dua pekan pascapemilu telah menetapkan kejadian meninggalnya ratusan petugas KPPS itu sebagai bencana kemanusiaan. MER-C pun telah membentuk Tim Mitigasi Kesehatan Bencana Pemilu 2019.

Koordinator MER-C, Dokter Jose Rizal menyatakan, tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak.

“Pemerintah terkesan tidak memiliki sense of crisis dan sense of emergency terhadap rakyat yang berguguran dalam pesta demokrasi. Kami melihat ada pembiaran terhadap jatuhnya korban,” kata Rizal dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (15/5).

Karena itu, MER-C mendesak pemerintah dan KPU untuk peduli, yakni dengan turun langsung melihat korban-korban yang sakit dan menangani mereka termasuk pembiayaan rumah sakit dan seterusnya hingga mereka sembuh. Perlu ada langkah konkret untuk mencegah kematian lebih banyak. Pola penanganan korban bencana pemilu, menurut Rizal, harusnya juga dalam kerangka penanganan bencana sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Kematian memang bisa disebabkan kelelahan, selama dia ada riwayat penyakit lain seperti serangan jantung. Tetapi harus didalami, tidak bisa sekadar hipotesis. Pembuktiannya harus melalui COD (cause of death),” ujar dia.

Terhadap korban yang sakit, kata dia, pemerintah dapat membentuk tim ahli untuk melakukan assessment (triage) dan investigasi terhadap penyakit yang mereka idap. Ini bertujuan agar tercapai masa tanggap, diagnosis, serta tindakan yang akurat.

“Kami curiga karena menemukan tidak ada gejala, tidak ada penyakit dan meninggal dalam waktu cepat serta banyak,” ucap Jose.

Sementara, bagi pasien yang meninggal, dapat dilakukan investigasi penyebab kematian, mulai dari autopsi verbal sampai kepada autopsi klinis. Ini diupayakan agar sebab kematian bisa diketahui dengan pasti untuk digunakan sebagai mitigasi penyelenggarakan pemilu berikutnya.

“Kita pernah melakukan autopsi terhadap Faturrahman al-Gazi yang ditembak di Filipina, dan penemuan menyatakan Faturrahman ditembak dari belakang. Termasuk Mavi Marmara, jadi kami juga berpengalaman, bukan kali ini saja,” ujarnya.

Dia menegaskan, apabila pemerintah dan KPU tetap abai atas kasus bencana kemanusiaan Pemilu 2019, MER-C akan menyiapkan gugatan ke Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC), Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ), atau UNHRC (United Nation Human Right Council) ke Jenewa dan Den Haag.

“Semoga KPU serius menangani bencana ini. Kalau KPU ngeyel, kami akan tetap mengajukan gugatan, kami tidak takut. Urusan Mavi Marmara saja kita urus, apalagi urusan kebangsaan, walaupun tugas kemanusiaan tidak melihat latar belakang,” ujar Jose.

 

Editor : Admin

Sumber : https://suarapalu.com/ratusan-petugas-kpps-gugur-mer-c-akan-gugat-kpu-ke-mahkamah-internasional/

Please follow and like us:
error0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*