Siwaliparri, Tradisi Yang Tetap Hidup Di Desa Bala

Butuh Mobil Baru, Hubungi Dealer Resmi Suzuki Mobil Polman – Sulbar

PolewaliMandar.NET – “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Tradisi saling membantu “Siwaliparri” dalam keluarga di Desa Bala masih berlangsung. Suami dan istri memiliki tangung jawab bersama dalam mencari nafkah untuk menyambung hidup.
Masyarakat di Desa Bala, Balanipa Polewali Mandar khususnya laki- laki sebagian memilih untuk melaut atau menjadi nelayan. Pekerjaan utama mereka ini biasa disebut “posasiq”. Desa ini memang berbatasan langsung dengan laut (Teluk Mandar).

Melaut biasanya dilakukan hingga 5-6 bulan lamanya meninggalkan kampung dan keluarga. Nelayan Bala biasanya melaut hingga ke Bone, Manado, Kendari, NTT, dan sampai ke Kalimantan.
Lalu perempuan mereka memiliki kebiasaan menenun sarung khas Mandar (lipaq saqbe) yang biasa dilakukan di dalam rumah atau di kolong rumah. Aktivitas menenun ini sudah menjadi tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh perempuan di sana, bahkan ini menjadi pekerjaan utama. Istilah lain bagi profesi penenun sarung sutra ini, yakni paraji.
Hampir setiap rumah di Bala memiliki alat tenun. Inilah salah satu cara bagi para istri nelayan di Bala menanti suami pulang melaut. Pekerjaan yang kelihatannya rumit dan melelahkan ini sebenarnya ringan di tangan mereka. Bagaimana tidak, kebiasaan itu dimulai sejak mereka menginjak usia remaja.
Proses pembuatan sarung tenun khas Mandar ini memiliki beberapa tahapan. Pertama, proses manggalenrong, artinya menggulung benang ke benda berbentuk tabung. Kedua, proses sumau, yakni menyusun benang. Ketiga dipatama, artinya benang yang sudah disumau dimasukan ke pamalu (alat tenun).
Dan yang keempat mappamaling paqan, benang digulung di pappamalingan (kayu berbentuk stik panjang 30 cm). Lalu kelima, ditetteq, pengisian benang ke dalam tandayang (alat tenun) kemudian ditenun hingga membentuk sarung.
Proses pembuatan sarung ini memakan kisaran waktu 10 hari untuk satu buah sarung. Jadi, saat suami pulang dari melaut sekitar 15-18 sarung telah jadi. Sarung saqbe ini biasanya dijual dengan harga Rp100 ribu hingga Rp200 ribu tergantung motif dan jenisnya. Mereka menjualnya di Pasar Pambusuang. Pembuatan sarung juga biasanya tergantung pesanan pelanggan.
Kini tenunan saqbe tidak hanya berguna sebagai sarung semata, namun telah menjadi baju, rok dan jas yang biasa dipakai saat pergi ke kantor dan acara-acara penting. (*)
Penulis : Agung Hidayat Mansur (Ketua Umum PW Ikatan Pelajar Muhammadiyah SulBar)
Editor : Admin
Please follow and like us:
error0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*